KRS oh KRS

Tulisan ini berawal dari sebuah pengalaman pertama pada saat mengambil mata kuliah di KRS, yaitu ketika akan memasuki semester 3 di departemen. Hal itu sungguh menguji kesabaran saya. Tidak mendapat mata kuliah sc atau minor yang diharapkan seakan menjadi hal yang biasa. Begitu pun dengan layanan KRS yang dirasakan sangat lambat membuat mahasiswa kecewa, apalagi di hari pertama pembukaan KRS. Hal tersebut mungkin diakibatkan begitu banyaknya mahasiswa yang mengakses KRS tersebut.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengambil mata kuliah melalui KRS online, di antaranya :
> siapkan terlebih dahulu mata kuliah mayor, minor, atau SC jauh sebelum KRS dibuka,
> pada hari pertama pembukaan KRS, utamakan mata kuliah minor atau sc karena kapasitas kelas sangat terbatas, namun apabila bentrok jadwal utamakan mata kuliah mayor,
> dan yang paling penting tetap semangaaaat yaaa

Semoga bermanfaat :)

Cerita Inspirasi

Yuli Siti Fatma

G34100008

Laskar 13

Menuju Puncak

Saya yakin bahwa setiap tahap dalam kehidupan kita terkandung di dalamnya sebuah inspirasi. Sekecil apapun itu mengandung sebuah pelajaran bagi kita. Namun entah mengapa saya merasa kesulitan ketika membat cerita ini.

Pengalaman yang akan saya ceritakan ini menjadi inspirasi bagi kehidupan saya. Inspirasi ini bermula dari pengalaman saya mendaki gunung untuk yang pertama kalinya. Gunung Gede Pangrango lah yang saya daki. Sebelum berangkat saya dan rombongan tentunya menyiapkan semua yang diperlukan pada saat pendakian. Mulai dari makanan sampai tenda kami siapkan sebaik-baiknya.

Saat itu pada 28 Juni 2009 malam begitu cerah. Dengan niat dan semangat yang tinggi saya dan rombongan mengawali perjalanan tanpa mempertimbangkan hambatan yang mungkin dihadapi. Yang saya yakini adalah bahwa saya pasti bisa mencapai puncak gunung.

Perjalanan dimulai dari kantor Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Awalnya semua terasa biasa saja, namun semakin lama medan yang dilalui semakin terjal dan berbatu. Rombongan laki-laki pun membantu membawakan barang bawaan rombongan perempuan. Kaki kami terasa berat untuk menaiki tanjakan demi tanjakan. Perjalanan begitu panjang dan terasa begitu lama. Saya harus tetap fokus melewati jalan yang licin dan berbatu, apalagi saat kami melewati sungai air panas. Kami harus pandai menginjakan kaki kami, jika sedikit saja terpeleset jurang di bawahnya telah siap menunggu. Segala bentuk tantangan dan hambatan harus kami lewati. Tak jarang kami singgah untuk mengumpulkan tenaga dan semangat baru.

Setelah berjam-jam menelusuri rimba di gelapnya malam, kami sampai di persimpangan antara gunung Gede dan Pangrango. Kami bermalam di sana. Udaranya begitu dingin menusuk tulang, begitu pula dengan airnya. Esok hari kami kembali melanjutkan perjalanan. Tanjakan yang harus kami lewati semakin curam. Runtuhan kayu pun banyak memotong jalan. Awalnya saya merasa pesimis untuk mencapai puncak karena medan yang berbahaya dan kondisi fisik yang mulai terasa lelah. Kami harus berhati-hati dan tetap waspada. Jika kami lengah akibatnya akan fatal. Namun saya tetap optimis.

Perlahan namun pasti akhirnya saya dan rombongan tiba di puncak gunung. Hati kami sangat senang. Beratnya perjalanan yang kami lewati seketika terlupakan ketika kami bisa merasakan hembusan angin puncak yang menyejukan  dan indahnya panorama alam yang tak tertandingi. Begitu besar kuasa Allah yang telah menciptakan alam dengan segala manfaat dan keindahannya. Sayangnya keindahan itu tidak bisa kami nikmati dari puncak dalam waktu yang lama. Kami harus mempersiapkan diri untuk kembali menuruni gunung.

Cerita di atas adalah pengalaman saya yang sangat berkesan. Semua proses pendakian yang saya alami ibarat sebuah kehidupan. Ketika kita ingin mencapai atau mendapatkan sesuatu kita harus terlebih dahulu mengutamakan niat dan mempersiapkan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya. Tanamkan dalam diri bahwa kita bisa mendapatkannya. Keberanian juga merupakan hal yang sangat diperlukan. Apapun resiko yang mungkin dihadapi kita harus berani melewatinya. Kita harus tetap fokus, optimis, sabar dan besemangat karena dengat begitu setiap tantangan dan hambatan akan bisa terlewati.

Kerjasama dan saling membantu tak boleh dihilangkan. Bagaimana pun ketika kita ingin mencapai sesuatu kita akan selalu membutuhkan orang lain. Sukses adalah milik bersama. Kita harus senantiasa bersyukur terhadap apa yang telah Allah karuniakan.

Kehidupan ibarat sebuah gunung, ada tanjakan berarti ada turunan. Ketika ingin mencapai puncak kita harus berusaha melewati tanjakan. Namun setelah mencapai puncak, jangan pernah melupakan turunan. Bersiap-siaplah untuk itu!

Inspirasi ini semoga tidak hanya menjadi teori semata, tetapi akan selalu merangsang hati dan pikiran yang diwujudkan dalam tindakan nyata.

Inspirasi dari Seorang Sahabat

Banyak orang yang mengatakan bahwa sahabat adalah segalanya, benarkah? Sahabat memang sangat kita butuhkan. Kita bisa berbagi kesedihan, kesenangan dan pengalaman dengan sahabat. Ya, berbagi pengalaman, itu yang saya dapatkan dari seorang sahabat.

Dia adalah seorang yang dapat dikatakan judes dan sulit berinteraksi dengan orang lain. Selepas lulus SMA ia memutuskan untuk bekerja. Ia kemudian tinggal bersama saudaranya di Jakarta. Di sana ia mengajukan lamaran ke berbagai toko dan pusat perbelanjaan.

Suatu hari di bulan Ramadhan ia dipanggil untuk wawancara oleh sebuah pusat perbelanjaan terkemuka di Indonesia. Setelah melewati proses wawancara, akhirnya ia ditempatkan sebagai penjaga kasir. Penempatan tersebut membuat dirinya harus pandai beradaptasi. Ia harus berubah menjadi sosok yang ramah dan sabar dalam menghadapi pelanggan. Kemampuan berkomunikasi secara efektif sangat dibutuhkan, apalagi ketika menghadapi pelanggan yang cerewet. Jangan sampai menimbulkan kesalahpahaman yang mengakibatkan pelanggan menjadi marah. Dengan cepat ia harus mengubah perangainya yang judes dan sulit berinteraksi dengan orang lain. Hal tersebut merupakan tanggung jawab dan kewajiban dirinya karena tuntutan pekerjaan. Itulah yang ia sampaikan kepada saya.

Pengalaman dari seorang sahabat ini merupakan contoh kecil yang bisa menginspirasi saya. Tak hanya di dunia kerja, dimana pun kita berada kita harus cepat tanggap terhadap situasi dan kondisi lingkungan, dengan kata lain kita harus pandai beradaptasi.

Saya termasuk orang yang judes, sulit berinteraksi dengan orang lain, kurang percaya diri dan kadang membatasi diri saya bahwa saya pemalu. Ternyata, hal seperti itu perlahan-lahan harus dihilangkan karena bagaimana pun akan menghambat hubungan sosial kita. Rasa percaya diri harus dipupuk sebaik mungkin agar komunikasi yang dibangun berjalan lancar tanpa adanya kasalahpahaman.

my calender
February 2016
S M T W T F S
« Aug    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
2829